Sabtu, 29 September 2012
ABOUT DZUL QARNAIN
Di dalam kitab suci Al Qur’an surat Al Kahfi terdapat kisah seorang raja yang saleh bernama Dzul Qarnain. Allah mengurniakannya kekuasaan di muka bumi dan kepadanya dianugerahkan pula jalan untuk mencapai berbagai kebajikan.
Tahta kerajaan dan kekuasaan yang dimilikinya tidak membuatnya lupa diri dan sombong. Bersama pasukannya ia menjelajah jauh ke timur dan jauh ke barat, hingga suatu saat ia melihat matahari tenggelam di dalam laut yang berlumpur, dimana Allah swt. menegurnya.
Dalam surat al Kahfi ayat 86, Allah berfirman: “Sehingga tatkala ia (Dzul Qarnain) sampai di tempat matahari terbenam, ia melihat matahari tenggelam di laut berlumpur hitam; dan di tempat itu ia mendapati suatu kaum. Kami (Allah) berfirman: ‘Hai Dzul Qarnain, engkau boleh menghukum dan boleh pula berbuat baik terhadap mereka”.
Sewaktu Dzul Qarnain melakukan penjelajahan berikutnya , dia dan anak buahnya sampai ke sebuah kawasan yang dikuasai oleh kelompok Ya’juj dan Ma’juj yang terkenal keji dan serakah.
Untuk menciptakan ketenangan penduduk, dengan rahmat Allah swt. di tempat tersebut Dzul Qarnain membangun dinding pemisah yang tinggi besar terbuat dari bongkahan besi cor (‘cast iron’). Dengan berdirinya tembok tersebut, penduduk yang lemah dan teraniaya itu merasa aman dan terlindungi.
Mereka sangat berterima kasih atas kedatangan dan budi baik Dzul Qarnain sehingga terlepas dari penindasan dan pemerasan Ya’juj dan Ma’juj. Kejadian ini diabadikan dalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 92 – 98, yang berbunyi:
“Kemudian dia (Dzul Qarnain) menempuh jalan (yang lain): Sehingga tatkala dia telah sampai diantara dua gunung, maka dia mendapatkan di sekeliling dua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Dzul Qarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Maka bolehkah kami memberikan pembayaran kepadamu (dengan syarat) bahwa kamu membuatkan dinding antara kami dengan mereka”.
Dzul Qarnain berkata: ‘Apa yang Tuhanku memberikan kekuasaan kepadaku di dalamnya adalah lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan (pekerja-pekerja), nanti aku akan membuatkan dinding antara kamu dengan mereka.
Berikan kepadaku potongan-potongan besi, sehingga apabila besi itu sama (rata) antara kedua pucuk gunung, berkatalah Dzul Qarnain:
‘Tiuplah api itu’. Sehingga tatkala besi itu menjadi (merah seperti) api, dia berkata: 'Berikan kepadaku leburan tembaga, akan kutuangkan diatasnya’
Maka mereka tidak dapat mendakinya dan mereka tidak dapat melobanginya. Dzul Qarnin berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku. Dia akan menjadikannya hancur (rata dengan bumi), dan janji Tuhanku adalah benar”.
Tokoh ini dikatakan mempunyai ciri-ciri istimewa sehingga diberi
kepercayaan membina tembok penghalang bagi makhluk perosak
umat manusia Yakjuj dan Makjuj. Apakah keistimewaan
beliau sehingga namanya tercatat dalam Al-Quran?
Siapakah sebenarnya Dzul Qarnain itu?
Kitab suci Al Qur’an tidak menjelaskan lebih jauh siapakah raja yang bernama Dzul Qarnain itu, kapan dia berkuasa, dimana kerajaannya dan daerah mana saja yang pernah dijelahahi dan ditaklukannya. Yang dapat ditangkap dengan jelas adalah pesan kebesaran jiwa dari seorang penguasa yang gagah berani, banyak mengadakan perjalanan jauh bersama pasukannya.
Seorang yang tidak menghendaki penindasan dan perampasan hak hidup dan milik orang-orang yang lemah dan teraniaya. Diatas segalanya Dzul Qarnain adalah sosok penguasa yang bertakwa kepada Allah swt., mematuhi perintah dan larangannya serta berkeyakinan bahwa segala kekuatan dan kebesaran termasuk tembok besi yang kokoh dan besar, yang menghubungkan dua gunung yang berdekatan adalah rahmat pemberian Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dia mengingatkan bahwa segala yang besar tegak berdiri pada saatnya bila Allah swt. sudah menghendaki akan hancur rata dengan tanah, hilang bekas dan tandanya bahwa sebelumnya pernah menjadi monumen yang menjulang tinggi.
Demikian pula dengan kebesaran dirinya yang disadarinya tidak akan kekal abadi yang disertai kepekaan hati nurani mengantarnya pada sifat pemimpin yang tawadhu’, merendahkan diri dihadapan Tuhannya, sehingga pribadi dan kisah perjalanan hidupnya dijadikan teladan dan diabadikan namanya dalam kitab suci Al Qur’an.
Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Dzul Qarnain yang kisahnya tercantum dalam Al Qur’an adalah seorang raja dari Macedonia yang bergelar Alexander the great (Iskandar yang agung), yang hidup pada tahun 356 SM – 323 SM. Sewaktu menggantikan ayahnya raja Philip II, usia Iskandar baru 20 tahun, namun dia telah menunjukkan bakat sebagai pemimpin besar yang mewarisi daerah kekuasaan sampai ke Yunani.
Untuk mempersiapkan pengganti, ayahnya telah menyediakan seorang guru istimewa, seorang filosof termasyhur Aristoteles, disamping dia harus terus berlatih berperang. Melanjutkan cita-cita ayahnya, Alexander menyerang kerajaan besar yang daerah kekuasaannya sangat luas dibanding negaranya. Meskipun pasukannya lebih kecil, dengan kecerdasannya dia akhirnya dapat menguasai kekaisaran Persia pada tahun 331 SM. Sewaktu berperang di Libanon yang waktu itu bernama Phoenicia Tyre, Alexander menerima tawaran dari Raja Persia untuk menghentikan pertempuran dengan imbalan akan menerima setengah wilayah kekuasaan Persia.
Kota Iskandariah sebuah kota masyhur di bumi Mesir - Kota Pelabuhan import - eksport muncul sekitar tahun 332 SM.Dibina oleh seorang penjelajah dunia terkenal,Iskandar Zulkarnain(Alexender The Great) yang bermaksud raja Timur dan Barat.Dilahirkan di Mecedonia.Beliau telah memerintahkan Denakrates(seorang ahli perancang kota) untuk merealisasikan impiannya itu.Beliau pernah menakhluk dunia dari daratan Yunani,Laut Tengah,Mesir, Asia Minor, Persia,hingga India Utara.Kota ini juga berkembang pesat dan pernah menjadi ibu kota Mesir selama hampir 1000 tahun.Ia berterusan sehinggalah penakhlukan islam terhadap Mesir,iaitu setelah penguasaan oleh tiga peradaban besar: Batlemeus, Rom dan Bazantine.
Manakah yang benar?
Fakta sejarah tidak menunjukkan bahawa Alexander The Great adalah Zulkarnain yang disebut dalam Al-Quran (di dalam Al-Quran hanya disebut Karnaen tanpa Iskandar). Siapakah Zulkarnain yang disebutkan di dalam Al-Quran? Apakah dia seseorang di masa lalu ataukah di masa depan? Tiada siapa yang tahu.Namun kita perlu mengambil hikmah di sebalik cerita Iskandar Zulkarnain ini.
Selama 12 tahun Alexander menguasai pantai Laut Tengah Mesir, Kemudian Babylonia hingga ke wilayah Pakistan dan India Utara sekarang. Selain di Mesir Alexender juga mendirikan/diabadikan di kota-kota berikut:
*Alexandria Asiana, Iran
*Alexandria In Ariana, Afghanistan
*Alexandria of the Caucasus, Afghanistan
*Alexandria on the Oxus, Afghanistan
*Alexandria of the Arachosians, Afghanistan
*Alexandria on the Indus, Pakistan
*Alexandria Eschate, ”The furthest” Tajikistan
Seorang panglima perang Alexander yang bernama Parmenio mengomentari tawaran itu: ‘Seandainya saya Alexander, tawaran itu saya terima”. Mendengar komentar panglimanya Alexander menaggapinya dengan cerdik: ‘Begitu pula aku, seandainya aku ini Parmenio!’ Tidak hanya berhenti sampai di Persia, sesudah Tyre jatuh dia menuju arah selatan mengalahkan Gaza dan akhirnya sampai di Mesir, dimana di sini dia mendirikan sebuah kota pelabuhan bernama Iskandariyah. Penaklukannya dilanjutkan ke Afghanistan, terus melintasi pegunungan Hindu Kush menuju India.
Pada tahun 323 SM sewaktu berada di Babylon, Iskandar terserang penyakit demam kemudian meninggal dunia pada usia menjelang 33 tahun. Cleopatra berceritera kepada Julius Caesar sewaktu berada di Mesir bahwa penyakit yang diderita Alexander adalah epilepsi (ayan) sama dengan penyakit yang diidap Julius Caesar waktu itu.
Sementara itu sebagian ahli sejarah yang lain berpendapat bahwa Dzul Qarnain bukanlah Alexander dari Macedonia, mereka menyatakan bahwa yang dimaksud Dzul Qarnain di dalam kitab suci Al Qur’an adalah Cyrus yang agung, pendiri kekaisaran Persia yang hidup 200 tahun sebelum Alexander, yakni pada tahun 590 SM – 529 SM, yang kekuasaannya membentang dari Laut Tengah sampai India.
Persamaan antara keduanya, mereka sama-sama menjelajah ke Barat dan ke Timur dari Babylonia hingga Asia Tengah terus ke sungai Indus di India. Yang menonjol dari diri Cyrus adalah kebijaksanaannya dalam mengendalikan pemerintahan, dimana dia terkenal toleran dengan agama-agama dan adat-istiadat setempat, tidak bersikap kejam pada orang-orang yang ditaklukkannya serta seorang penguasa yang berperikemanusiaan pada jamannya. Cyrus atau Kurush dilahirkan di Persia sekitar tahun 590 SM dimana waktu itu yang berkuasa adalah kerajaan Medes.
Dia masih keturunan pembesar daerah itu sebagai bawahan raja Medes. Ketika dewasa Cyrus dapat mengalahkan raja Medes dan Persialah yang kemudian membawahi Medes dan Babilonia. Hampir dua abad Persia mengalami kejayaan, perdamaian dan kemakmuran hingga datang Alexander untuk menguasainya.
Apabila benar bahwa yang dimaksud Dzul Qarnain itu adalah Cyrus, berarti dia hidup sekitar 1000 tahun sebelum turunnya wahyu Al Qur’an kepada Nabi Muhammad saw.
Untuk mengetahui kebenaran keberadaan dinding besi yang dibangun Dzul Qarnain, Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa seorang kalifah bernama Khalifah Al Watsiq dari bani Abbas (842 – 847M) mengirim tim ekspedisi yang memakan waktu selama dua tahun. Setelah kembali ke Baghdad mereka melaporkan bahwa memang ada dinding tinggi besar terbuat dari besi dan tembaga yang dilengkapi dengan pintu-pintu besar dan kunci-kunci besar serta bekas-bekas batu tembok dan semen kelihatan sudah membatu berserakan.
Sayid Quthub menulis pada ‘Tafsir Fi Zhilalil Qur’an bahwa ada orang yang menemukan dinding besi bendungan di dekat kota Tarmidz Asia Tengah yang dikenal dengan nama ‘Pintu Besi’. Dan pada awal abad ke - 15, seorang sarjana bangsa Jerman bernama Selad Burger telah mengadakan penyelidikan ke tempat tersebut. Seorang ahli sejarah bernama Klafego pada tahun 1403 mengunjungi ‘Pintu Besi’ yang terletak antara Samarkand dengan India. Mereka mengatakan besar kemungkinan bahwa itulah bendungan raksasa Dzul Qarnain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar